KOMPONEN BIOTIK DAN ABIOTIK LINGKUNGAN MANGROVE
A. Komponen Abiotik Lingkungan Mangrove
Struktur dan fungsi ekosistem mangrove, komposisi dan distribusi spesies, serta pola pertumbuhan organisme mangrove sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi mangrove dalam jangka panjang adalah fluktuasi pasang surut dan ketinggian rata-rata permukaan laut. Adapun keseluruhan faktor yang mempengaruhi ekosistem mangrove mencakup: topografi dan fisiografi pantai, tanah, oksigen, nutrien, iklim, cahaya, suhu , curah hujan, angin dan gelombang laut, pasang-surut laut, serta salinitas. Pada kondisi pasang surut optimal, mangrove dapat tumbuh jauh ke pedalaman (SNM, 2003; Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Di Kalimantan, ekosistem ini dapat menjorok hingga 150 km ke hulu sungai, bahkan di sungai Kapuas hingga 240 km (Steenis, 1958).
1. Topografi dan Fisiografi Pantai
Formasi mangrove yang luas umumnya terdapat di dataran lumpur pantai (mudflat) dan delta muara yang terlindung. Topografi pantai merupakan faktor penting yang mempengaruhi komposisi spesies, distribusi spesies dan luas kosistem mangrove. Karakteristik pantai dipengaruhi oleh penggenangan pasang, sedimentasi, dan sifat sedimen. Dataran lumpur dan muara dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau sungai yang umumnya terkait dengan kesuburan dan mendukung keragaman tumbuhan dan hewan. Semakin datar pantai dan semakin besar pasang surut, maka semakin lebar ekosistem mangrovenya (SNM, 2003). Pada dataran pantai yang sempit, mangrove tumbuh sempit, memanjang mengelilingi pulau, seperti di Nusa Tenggara. Pada daerah pantai dengan gelombang laut yang besar dan tidak terlindung, misalnya di pantai selatan Jawa, vegetasi mangrove sulit tumbuh. Area mangrove yang luas dengan lebar mencapai beberapa kilometer biasanya terdapat di pantai yang luas, seperti teluk Bintuni, Papua, berupa formasi mangrove pada daerah delta; dan pantai timur Sumatera berupa formasi mangrove pada daerah pantai laut pedalaman (SNM, 2003).
2. Tanah
Vegetasi mangrove umumnya tumbuh pada tanah lumpur, namun berberapa spesies dapat tumbuh di tanah berpasir, koral, tanah berkerikil, dan tanah gambut. Tanah mangrove mempunyai ciri-ciri selalu basah, mengandung garam, oksigen sedikit, dan kaya bahan organik. Pembentukan tanah mangrove dipengaruhi: (i) faktor fisik, seperti transport nutrien oleh arus pasang surut dan aliran sungai, (ii) faktor fisik-kimia, seperti agregasi berbagai partikel, dan (iii) faktor biotik, seperti produksi dan perombakan bahan organik (SNM, 2003). Tanah mangrove tersusun atas pasir (sand), lumpur/debu (silt) dan tanah liat (clay) dengan komposisi berbeda-beda. Topsoil tanah mangrove biasanya bertipe pasir atau lempung. Topsoil pasir berwarna lebih terang, porous, dapat dilewati air pada saat pasang dan mengalami aerasi pada saat surut, sedangkan topsoil lempung berwarna lebih gelap, kurang porous dan tidak teraerasi dengan baik. Tanah subsoil selalu jenuh air dan hanya teraerasi sedikit, sangat kaya bahan organik, namun terurai sangat lambat. Tanah ini berwarna abu-abu gelap atauhitam (gleying), bersifat asam, dan berbau menyengat (telur busuk) menunjukkan adanya hidrogen sulfida (H2S) (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Berdasarkan kedalamannya, tanah mangrove dibagi dalam dua kelas, yaitu (ii) kedalaman 0-10 m, tanah berwarna kelabu hijau, hijau, hijau kelabu hingga kuning kelabu dan berstektur berat, dan (ii) kedalaman ≥10 cm, tanah berwarna kelabu berbintik-bintik coklat dan bertekstur berat. Berdasarkan letaknya, tanah mangrove dibagi dalam dua kategori, yaitu: (i) daerah dekat laut dengan pH ≥ 5,5 dan densitas rendah (0,6); (ii) daerah dekat darat dengan pH hampir netral dan mengandung belerang (SNM, 2003). Kondisi tanah merupakan penyebab terbentuknya zonasi hewan dan tumbuhan, misalnya kepiting yang berbeda menempati kondisi tanah yang berbeda pula, di sisi lain tumbuhan Avicennia dan Sonneratia hidup dengan baik pada tanah berpasir, sedangkan Rhizophora lebih menyukai lumpur lembut, adapun Bruguiera menyukai tanah lempung yang mengandung sedikit bahan organik. Adanya kalsium dari cangkan Molluska dan karang lepas pantai menyebabkan air di ekosistem mangrove bersifat alkali. Namun tanah mangrove bersifat netral hingga sedikit asam, karena aktivitas bakteri pereduksi belerang dan sedimentasi tanah lempung yang asam (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
Susunan dan kerapatan spesies mangrove sangat dipengaruhi tekstur dan konsentrasi ion tanah. Lahan mangrove dengan tanah yang mengandung liat dan debu lebih banyak memiliki tegakan lebih rapat. Tanah dengan konsentrasi kation Na>Mg>Ca atau K, tegakan dikuasai Avicennia,Sonneratia, Rhizophora, atau Bruguiera. Tanah dengan konsentrasi kation Mg>Ca>Na atau K tegakan didominasi N. fruticans. Tanah dengan konsentrasi kation Ca>Mg>Na atau K tegakan didominasi Melaleuca SNM, 2003). Tanah mangrove umumnya mengadung zat besi dan bahan organik yang tinggi. Keberadaan belerang membuat tanah menjadi rentan terhadap asam sulfat karena oksidasi. Pada kondisi anaerob, belerang dari air laut direduksi menjadi hidrogen sulfida (H2S) atau pirit (FeS2) oleh bakteri-bakteri perombak belerang, seperti Desulfovibriodan Desulfomaculum. Drainase dan aerasi sedimen yang mengandung piritmendorong terjadinya oksidasi dan formasi asam sulfat (H2SO4), melalui rekasi kimia: 2FeS2+ 2H2O+ 7Oà2FeSO4 + H2SO4. Ketika reaksi tersebut terjadi – misalnya pada pembuatan tambak atau sawah – pH tanah turun menjadi ≤ 3, sehingga menghambat produksi petambakan, pertanian, dan regenerasi ekosistem mangrove. Pencucian asam dari tanah ke sungai oleh hujan dapat menyebabkan kematian massal ikan (Dunn, 1975 dalam SNM, 2003).
3. Oksigen
Tanah mangrove umumnya berupa lumpur yang selalu jenuh air, sehingga hampir tidak memiliki rongga udara untuk menyerap oksigen. Jumlah oksigen terlarut dalam perairan mangrove umumnya lebih rendah daripada di laut terbuka. Kandungan ini semakin rendah pada tempat yang kelebihan bahan organik, mengingat oksigen diserap untuk peruraian bahan organik, sehingga terbentuk zona anoksik. Oksigen pada permukaan sedimen (sediment water interface) digunakan bakteri untuk mengurai bahan organik dan respirasi. Oksigen ini diperoleh dari sirkulasi pasang-surut dan pengaruh atmosfer. Di bawahnya, dalam kondisi anoksik tumbuh bakteri anaerob yang dapat mengurai bahan organik dan menghasilkan H2S (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Untuk mengatasi kekurangan oksigen, tumbuhan mangrove beradaptasi melaui sistem perakaran yang khas. Kekurangan oksigen juga dipenuhi oleh adanya lubang-lubang dalam tanah yang dibuat oleh hewan, misalnya kepiting. Konsentrasi oksigen terlarut bervariasi menurut waktu, musim, kesuburan tanah, keanekaragaman tumbuhan dan organisme akuatik. Konsentrasi oksigen terlarut harian tertinggi terjadi pada siang hari dan terendah pada malam hari. Konsentrasi oksigen terlarut di ekosistem mangrove 1,7-3,4 mg/L, lebih rendah dibandingkan di luar ekosistem mangrove yang besarnya 4,4 mg/L (SNM, 2003).
4. Nutrien
Nutrien mangrove dibagi atas nutrien inorganik dan organik. Nutrien inorganik yang penting adalah N (sering terbatas), P, K, Mg, dan Na. Sumber nutrien inorganik adalah hujan, aliran permukaan, sedimen, air laut, dan bahan organik yang terdegradasi. Nutrien organik berasal dari bahan-bahan biogenik yang didegradasi mikrobia (SNM, 2003). Nutrien ekosistem mangrove dihasilkan oleh ekosistem itu sendiri (autochthonous), serta dari sungai atau laut di sekitarnya (allochthonous). Hujan secara teratur menyapu detritus dari tepian pantai dan daerah aliran sungai ke dalam mangrove. Pada saat pasang, laut membawa bahan organik atau organisme tersuspensi ke ekosistem mangrove yang pada saat surut akan tersaring tanah (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Mangrove merupakan komunitas paling produktif di dunia (Clough, 1992). Sebagian besar biomassa mangrove dihasilkan dari serasah ( ±90%), yangselanjutnya disimpan dalam sedimen ( ± 10%), terdekomposisi (± 40%), atau terbawa ke ekosisten lain (±30%) (Duarte dan Cebrián, 1996). Biomassa ini merupakan makanan organisme detritus (Manassrisuksi dkk., 2001). Ekosistem mangrove mendukung sejumlah besar kehidupan melalui rantai makanan (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993; Clough, 1992). Tumbuhan mangrove merupakan lumbung daun yang kaya nutrien yang akan diuraikan oleh fungi dan bakteri atau langsung dimakan kepiting. Detritus merupakan sumber pakan bagi Molluska, kepiting, udang dan ikan, yang selanjutnya dimakan hewan yang lebih besar. Nutrien yang dilepaskan ke dalam air selama periuraian serasah juga dimakan plankton dan alga. Detritus mangrove merupakan sumber utama karbon untuk berbagai spesies laut yang terhubung dalam jaring-jaring makanan bersama dengan plankton dan alga (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993; Clough, 1992). Ekosistem mangrove, rumput laut dan karang disatukan oleh massa air yang mengalir pada saat pasang surut, dan hewan yang hidup di kedua habitat tersebut. Berbagai ikan dan udang yang biasa ditemukan di lepas pantai menggunakan mangrove pada sebagian siklus hidupnya. Sebaliknya kepiting lumpur (Thalassina anomala) yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di mangrove dan bergerak ke laut saat bertelur. Aliran pasang surut membawa nutrien dari mangrove ke rumput laut dan karang. Ekosistem mangrove juga dapat mencegah sedimentasi berlebih pada ekosistem rumput laut dan terumbu karang, sehingga mencegah kematian (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
5. Iklim
Sebagian besar daerah pantai Indonesia beriklim tropis basah, dengan kelembaban, angin musim, curah hujan, dan temperatur tinggi, sehingga mencegah akumulasi garam-garam tanah. Kondisi di atas dataran terbuka dan di bawah kanopi hutan sangat berbeda. Dataran lumpur yang tersinari matahari langsung pada saat laut surut menjadi sangat panas dan memantulkan cahaya, sedangkan permukaan tanah di bawah kanopi tetap sejuk. Kelembaban ekosistem mangrove lebih rendah daripada hutan tropis pada umumnya karena adanya angin. Suhu dan kelembaban udara sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman spesies (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
6. Cahaya
Tumbuhan mangrove umumnya membutuhkan intensitas cahaya matahari tinggi. Kisaran intensitas cahaya optimal untuk pertumbuhan mangrove adalah 3000-3800 kkal/m2/hari. Pada saat bibit, tumbuhan mangrove memerlukan naungan. Intensitas cahaya 50% dapat meningkatkan daya tumbuhbibit R. mucronata dan R.apiculata. (ii) Intensitas cahaya 75% mempercepat pertumbuhan bibit B. gymnorrhiza.(iii) Intensitas cahaya 75% meningkatkan tinggi bibit R. mucronata, R. apiculata dan B.gymnorrhiza. Laju pertumbuhan tahunan dari R. mucronata, R. apiculata dan Bruguiera, dengan naungan lebih rendah daripada dengan sinar matahari penuh, sedangkan laju kematiannya lebih tinggi. Cahaya berpengaruh terhadap perbungaan dan perkecambahan mangrove, tumbuhan di luar gerombol menghasilkan lebih banyak bunga dan biji (SNM, 2003).
7. Suhu
Suhu penting dalam proses fisiologi, seperti fotosintesis dan respirasi. Pertumbuhan mangrove yang baik memerlukan suhu rata-rata > 20oC dan perbedaan suhu musiman tidak melebihi 5oC, kecuali di Afrika Timur yang perbedaan suhu musiman mencapai 10oC. Ekosistem mangrove di Sumatera Timur tumbuh pada suhu rata-rata bulanan berkisar 26,3o-28,7oC (Kusmana, 1993 dalam SNM, 2003). Pertumbuhan optimum Avicennia marina pada suhu 18-20oC, R. stylosa, Ceriops, E. agallocha dan Lumnitzera racemosapada suhu 26-28oC, Bruguiera pada suhu 27oC, Xylocarpus pada suhu 21-26oC dan X. granatumpada suhu 28oC (Hutching dan Saenger, 1987 dalam SNM, 2003). )
8. Curah Hujan
Jumlah, durasi, dan distribusi curah hujan merupakan faktor penting yang mengatur perkembangan dan distribusi tumbuhan. Curah hujan juga mempengaruhi faktor lingkungan lain, seperti suhu dan salinitas habitat mangrove. Berdasarkan klasifikasi iklim Schmid-Ferguson, ekosistem mangrove di Indonesia tumbuh pada daerah dengan tipe curah hujan A, B, C, dan D, dengan nilai Q yang bervariasi mulai 0-73,7% (Kartawinata, 1977 dalam SNM, 2003). Tumbuhan mangrove umumnya tumbuh baik di daerah dengan curuh hujan rata-rata 1500-3000 mm/tahun, namun juga tumbuh pada daerah yang bercurah hujan tinggi, yaitu 4000 mm/tahun yang tersebar selam 8-10 bulan (Aksornkoae, 1993).
9. Angin dan Gelombang/Ombak Laut
Angin berpengaruh terhadap ekosistem mangrove melalui gelombang dan arus laut, yang dapat menyebabkan abrasi dan meningkatkan evapotranspirasi. Angin kuat juga dapat menghalangi pertumbuhan, namun diperlukan dalam polinasi dan penyebaran bibit. Pada daerah pantai yang biasa terkena angin, tajuk pohon mangrove biasanya patah dan pepohonannya lebih pendek. Gelombang laut merupakan penyebab penting abrasi dan suspensi sedimen. Pada pantai berpasir dan berlumpur, gelombang dapat membawa partikel pasir dan sedimen laut. Partikel besar atau kasar akan mengendap, terakumulasi membentuk pantai berpasir. Keberadaan mangrove di pesisir pantai dapat melindungi kerusakan pantai akibat gelombang dan arus laut. Di teluk Grajagan, Banyuwangi, ekosistem mangrove dapat reduksi tinggi gelombang laut dari 1,09 m menjadi 0,7340 m (Pratikto dkk. 2002 dalam SNM, 2003).
10. Pasang-surutLaut
Durasi pasang surut berpengaruh besar terhadap perubahan salinitas area mangrove. Salinitas air meningkat pada saat pasang naik, dan menurun pada saat pasang surut. Hal ini dapat membatasi distribusi spesies mangrove, terutama distribusi horizontal. Pada area yang selalu tergenang hanya R. mucronata yang tumbuh baik, sedang Bruguiera dan Xylocarpusjarang mendominasi area ini. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa air tawar dan laut, sehingga mempengaruhi distribusi vertikal spesies mangrove. Ekosistem mangrove yang tumbuh di daerah pasang harian memiliki struktur dan kesuburan yang berbeda dari daerah semi-diurnal atau pasang campuran. Rentang pasang surut dapat mempengaruhi sistem perakaran mangrove. Di daerah dengan rentang pasang yang lebar, pneumatofora Rhizophora, Sonneratia, dan Aegialites tumbuh lebih tinggi daripada di daerah yang rentangnya sempit (SNM, 2003).
11. Salinitas
Mangrove merupakan vegetasi yang bersifat salt-tolerant bukan salt-demanding, sehingga dapat tumbuh dengan baik di air tawar. Keberadaan mangrove di habitat laut kemungkinan disebabkan: (i) penyebaran biji/propagul mangrove terbatas oleh pasang surut, (ii) anakan mangrove kalah bersaing dengan tumbuhan darat, dan (iii) mangrove dapat mentoleransi kadar garam (SNM, 2003). Salinitas kawasan mangrove bervariasi, 0,5-35 ppt, karena adanya pasang surut dan aliran sungai. Air tawar memiliki salinitas 0-0,4 ppt. Air payau merupakan air pada derajat oligohalin (0,5-5 ppt) hingga mesohalin (5-18 ppt), sedangkan air laut umumnya berderajat polihalin (18-30 ppt). Pada saat laut surut, kolam-kolam yang terbentuk dapat menjadi hipersalin (>30 ppt), karena evaporasi. Sungai-sungai kecil dalam ekosistem mangrove bersifat oligohalin, semakin ke arah daratan semakin tawar (Ng dan Sivasothi, 2001). Tumbuhan mangrove tumbuh subur di daerah dengan salinitas 10-30 ppt. Salinitas yang sangat tinggi, ± 35 ppt, berpengaruh buruk karena dampak negatif tekanan osmotik. Namun beberapa spesies dapat tumbuh di daerah dengan salinitas sangat tinggi. A. marina dan E. agallochadapat tumbuh di daerah dengan salinitas 63 ppt, Ceriops, 72 ppt., Sonneratia 44 ppt., R. apiculata 65 ppt, dan R. stylosa 74 ppt (SNM, 2003). Watson (1928), de Haan (1931) dan Chapman (1944 dalam SNM, 2003) membuat korelasi antara salinitas, frekuensi genangan pasang dan spesies pohon mangrove
B. Komponen Biotik Mangrove
1. Hewan Mangrove
ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai hewan, yang menjadikannya sebagai tempat tinggal, mencari makan, dan berkembang biak. Penelitian mengenai hewan mangrove di Indonesia masih terbatas, baik bidang kajian maupun lokasinya. Di pulau Jawa antara lain dilakukan di Teluk Jakarta, Tanjung Karawang, Segara Anakan Cilacap, Segara Anak Banyuwangi, dan Pulau Rambut (SNM, 2003). Ekosistem mangrove merupakan bentuk pertemuan lingkungan darat dan laut (ekoton), sehingga hewan dari kedua lingkungan ini dapat ditemukan di dalamnya. Sebagian kecil hewan menggunakan mangrove sebagai satu-satunya habitat, sedang lainnya berpindah-pindah berdasarkanmusim, tahapan siklus hidup, atau pasang surut (Tomlinson, 1986). Hewan mangrove dapat dibedakan atas hewan darat, hewan perairan tawar dan hewan laut (SNM, 2003; Ng dan Sivasothi, 2001).
a. Hewan dari Darat
Hewan darat yang mengunjungi mangrove umumnya tergolong vertebrata, seperti burung, amfibia, reptilia, dan mammalia.
1) Burung.
Mangrove merupakan habitat penting bagi burung migran dan tempat berlindung pada musim kemarau atau apabila hutan di dekatnya ditebang. Burung air yang sering mengunjungi mangrove antara lain: jabiru, bangau, heron, sedangkan burung daratan yang sering berkunjung adalah kutilang, burung madu, dan raja udang (Ng dan Sivasothi, 2001). Di Segara Anak, Jawa Timur terdapat sekitar 30 spesies burung, di ekosistem mangrove Muara Cimanuk, Jawa Barat terdapat 28 spesies burung. Di pulau Rambut, terdapat 56 spesies burung, terdiri dari 18 burung air dan 38 bukan burung air (SNM, 2003).
2) Amfibia
Katak jarang dijumpai di kawasan mangrove. Airnya yang asin barangkali kurang cocok dengan kondisi kulit katak yang relatif tipis. Spesies katak yang kadang-kadang dapat ditemukan di kawasan mangrove adalah Rana cancrivora (Ng dan Sivasothi, 2001).
3) Reptilia.
Spesies reptilia yang sering dijumpai di mangrove adalah biawak (Varanus salvator), kadal (Mabouyamultifasciata), berbagai spesies ular seperti Boiga dendrophila dan buaya muara (Crocodilus porosus) (SNM, 2003). Buaya muara bersarang di area mangrove dan sungai-sungai kecil di sekitarnya. Pada saat pasang reptil ini menuju mangrove untuk mencari makan. Di kawasanmangrove terdapat beberapa spesies ular yang menggunakannya sebagai habitat utama; demikian pula kadal dan biawak yang memakan insekta, ikan, kepiting dan kadang-kadang burung (Ng dan Sivasothi, 2001).
4) Mammalia.
Primata yang terdapat di area mangrove Jawa dan Sumatera adalah Macaca fascicularis, sedang di Kalimantan adalah Nasalis larvatus yang langka dan endemik. Pada beberapa lokasi konservasi seperti CA Angke-Kapuk, TN Baluran dan TN Ujung Kulon dijumpai Presbytis cristata (SNM, 2003). Kelelawar buah (kalong) sering membentuk koloni besar di ekosistem mangrove dan bergelantungan di siang hari. Mammalia lain yang dapat dijumpai antara lain berang-berang, bajing, tikus, dan celeng (Ng dan Sivasothi, 2001).
2. Hewan dari Perairan Tawar
Hewan air tawar pada ekosistem mangrove termasuk ke dalam kelompok vertebrata dengan jumlah spesies yang terbatas. Menurut Hutching dan Saenger, (1987 dalam SNM, 2003) di mangrove terdapat buaya air tawar (Crocodylus johnstone), dan kura-kura berkulit alur (Carettochelys inscupta).
3. Hewan dari Laut
Hewan dari laut di area mangrove didominasi Molluska (Bivalvia dan Gastropoda), Crustacea (Brachyura) dan ikan. Berdasarkan habitatnya, hewan ini tergolong dalam dua tipe yaitu: (i) infaunayang hidup di kolom air, terutama berbagai spesies ikan dan udang, dan (ii) epifaunayang menempati substrat baik yang keras (akar dan batang pohon mangrove) maupun yang lunak (lumpur), terutama kepiting, kerang dan berbagai spesies invertebrata lainnya (SNM, 2003).
Hewan laut di area mangrove memiliki dua pola penyebaran (SNM, 2003): a)Hewan yang menyebar secara vertikal (di batang dan daun pepohonan), yakni berbagai spesies Molluska, misalnya Littorina scrabra, Cerithidea, Nerita birmanica, Chthalmus witthersii, Murex adustus, Balanus amphitrite,Crassosraea cuculata, Nannosesarma minuta,dan Clibanarius longitarsus. Hewan yang menyebar secara horizontal (di atas atau di dalam tanah) yang menempati berbagai tipe habitat sebagai berikut: (1Zona pedalaman: Birgus latro, Cardisoma carnifex, Thalassina anomala, Sesarma, Uca lactea, U. bellator, dan lain-lain. (2)Hutan Bruguieradan Ceriop Sarmatium, Helice, Ilyoggrapsus, Sesarma, Metopograpsus frontalis, Cleistosma, Thalassina anomala, Utica, Telescopium telescopium, Uca, Cerithidea,dan lain-lain. (3)Hutan Rhizophor: Metopograpsus latifrons, Macrophthalmus, Telescopium telescopium, dan lain-lain. (4)Zona pinggir pantai dan saluran: Scartelaos viridus, Macropthalmus latrillei, Boleophthalmus chrysospilos, Rachypleus gigas, Telescopium telescopium, Epixanthus dentatus, Eurycarcinus integrifrons, dan lain-lain. Ekosistem mangrove memberi lima tipe habitat bagi hewan (SNM, 2003):
a) Tajuk pohon yang dihuni oleh burung, Mammalia dan serangga.
b) Lobang genangan air pada batang yang dihuni serangga (terutama nyamuk).
c) Permukaan tanah sebagai habitat siput/kerang dan ikan gelodok.
d) Lobang pada tanah sebagai habitat kepiting dan katak.
e) Saluran-saluran air sebagai habitat buaya dan ikan/udang.
Crustacea seperti remis, udang dan kepiting sangat melimpah di ekosistem mangrove. Salah satu yang terkenal adalah kepiting lumpur (Thalassina anomala) yang dapat membentuk gundukan tanah besar di mulut liangnya, serta kepiting biola (Uca)yang salah satu capitnya sangat besar. Terdapat sekitar 60 spesies kepiting di ekosistem mangrove. Kebanyakan memakan dedaunan, lainnya memakan alga atau detritus di sedimen tanah dan membuang sisanya dalam gumpalan-gumpalan pelet (Ng dan Sivasothi, 2001). Molluska, beserta Arthropoda, merupakan inverterbrata paling banyak dijumpai di ekosistem mangrove, baik Gastropoda maupun Bivalvia (Ng dan Sivasothi, 2001).















SNM adlah seminar nasional mangrove…..
makalah ini sangt terbatas dan mungkin bisa dilihat di pusat2 budidaya mangrove atau universitas yang membidangi…………